Kamis, Juni 19

Bahan Dasar Pembentuk Musik

Sebagaimana halnya produk-produk manusia yang lain seperti
kendaraan bermotor, gedung, senjata, dan apapun yang terdapat di dunia
ini, bahkan termasuk manusia sendiri yang merupakan ciptaan Tuhan,
maka musik pun tersusun dari unsur-unsur yang membentuk
keberadaannya. Jika dibandingkan dengan manusia hidup maka musik
juga memiliki jiwa, jantung, pikiran, dan kerangka. Jiwa musik terdapat
pada melodi, jantung atau denyut jantungnya adalah ritme, pikiriannya
adakah harmoni dan kontrapung, dan kerangkanya ialah bentuk.
Beberapa komponen pendukung keberadaan musik tersebut tersusun
dari bahan-bahan pembentuk unsur-unsur tersebut yang akan dibahas
dalam bab ini.

Bunyi
Bunyi dan nada dipelajari dalam mata pelajaran iImu akustika
musik. Biasanya ilmu akustika dipelajari sebagai landasan dalam
memahami produksi bunyi berbagai instrumen musik. Secara akustik,
bunyi dihasilkan oleh getaran. Sebagai contoh ialah fenomena produksi
suara yang dihasilkan dengan jalan menggesekkan alat penggesek (bow)
pada dawai-dawai biola. Contoh lain ialah petikan pada dawai-dawai
gitar. Perlu dicatat bahwa bunyi bukan vibrasi melainkan efek yang
dihasilkan vibrasi. Secara sederhana bunyi adalah sensasi otak. Bunyi
yang diproduksi alat musik maupun apa saja, menyebar ke segala arah.
Beberapa di antaranya ditangkap oleh telinga kemudian dikirim ke otak.
Otak kemudian menerjemahkan pesan-pesan tersebut sebagai bunyi.
Nada memiliki tingkat ketinggian yang berbeda-beda. Tingkat
ketinggian bunyi maupun nada yang dalam istilah internasional disebut
pitch (bahasa Inggris) ditentukan oleh kecepatan getar atau biasa disebut
frekuensi. Getaran yang teratur pada jumlah tertentu dalam setiap
detiknya menghasilkan nada-nada musikal yang membedakan dari bunyi
yang diproduksi untuk tujuan lain. Semakin tinggi kecepatan getaran
maka semakin tinggi pula tingkat ketinggian suatu bunyi atau nada.
Sebuah nada dengan jumlah getaran tertentu akan menjadi satu oktaf
lebih tinggi jika jumlah getarannya dilipat gandakan. Misalnya nada C
tengah yang memiliki 256 getaran per detik, maka nada oktafnya, yaitu C
berikutnya, akan memiliki 512 getaran per detik.
Berdasarkan tinggi rendahnya, penyebutan nada-nada musikal
menggunakan tujuh abjad pertama yaitu A, B, C, D, E, F, dan G, mulai
dari yang terrendah hingga tertinggi. Nada kelipatannya yaitu A, yang
hadir setelah G, disebut sebagai oktaf. Demikian pula seterusnya hal
tersebut berlaku untuk kelipatan nada-nada yang lainnya. Secara umum
wujud notasi nada ialah butir-butir yang berbentuk sedikit lonjong.

Garis Paranada
Butir-butir nada diletakan pada lima buah garis sejajar yang di
Indonesia lazim disebut paranada (Inggris: Staff). Sitem penulisan butirbutir
nada para paranada dikenal dalam masyarakat kita dengan istikah
not balok. Pada dasarnya prinsip membaca not balok adalah sangat
sederhana seperti halnya membaca sebuah grafik yang logis. Tingkat
ketinggian nada dapat terlihat dengan jelas sebagaimana apa adanya
pada paranada. Butir nada yang terletak di bawah menunjukkan nada
yang rendah dan demikian pula halnya dengan nada yang tinggi tentunya
terletak di wilayah atas. Pada garis paranada terdapat garis-garis vertikal
pembatas iramam disebut garis birama. Di antara garis-garis pembatas
terbentuk kolom-kolom yang disebut birama.

Nama-nama nada diterapkan sejalan dengan keadaan tersebut,
sehingga semakin tinggi letak butir nada maka abjad yang digunakan
semakin ke kanan. Pada ilustrasi di atas dapat kita maklumi bahwa posisi
nada-nada pada paranada dapat diklasifikasikan pada dua tempat, yang
pertama yaitu pada spasi atau di antara garis, dan yang kedua pada
garis. Sebagaimana ditunjukkan pada birama pertama dan kedua dalam
contoh di atas, secara berurutan nada B pada garis ketiga, terletak di
atas nada A pada spasi kedua. Nada-nada yang berada di luar kelima
garis sejajar atau paranada tersebut, diakomodasi seperlunya oleh garisgaris
bantu yang diletakkan di atas maupun di bawah paranada.
Guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, maka
penulisan nada pada paranada dapat disimak pada ilustrasi berikut ini:
Paranada dapat mengakomodasi seluruh wilayah nada-nada
musikal dari yang terrendah hingga yang tertinggi. Untuk keperluan
tersebut nama-nama nada pada paranada ditentukan oleh kunci (Inggris:
Clef) yang berbeda-beda yang diletakkan pada setiap awal paranada.
Penulisan nada-nada pada wilayah suara tinggi (Diskan) menggunakan
kunci G (G clef) atau biasa juga disebut treble clef; nada-nada pada
wilayah suara rendah (baskan) menggunakan kunci F atau biasa disebut
bass clef. Di antara kedua kunci tersebut ada kunci-kunci lain yaitu kunci
C yang biasa disebut dengan alto clef, untuk mengakomodasi penulisan
nada-nada tengah.
Nada-nada pada kedua paranada tersebut adalah nada C yang sama

Skala Nada
Dalam dunia pendidikan musik Indonesia “skala nada” lebih
dikenal dengan istilah “tangga nada” sedangakan secara internasional
disebut scale (Inggris). Nada-nada yang berurutan secara alfabetis
adalah susunan nada-nada skala. Nada pertama pada sebuah skala
memiliki kedudukan sebagai Tonika yang sekaligus menjadi nama dari
tangga nada tersebut. Dengan demikian rangkaian nada-nada skala yang
berawal dari B disebut tangganada B dan B adalah tonika dari tangga
nada tersebut.
Rangkaian nada dalam melodi terdiri dari kombinasi berbagai
susunan interval, yaitu jarak di antara sebuah nada dengan nada
berikutnya. Interval diukur dengan menghitung jumlah nada-nada
berderet yang seharusnya ada di antara dua nada berurutan yang
membentuk interval, termasuk nada pertama dan terakhir. Oleh karena
itu interval di antara C dan E ialah Tiga karena sebenarnya ada D di
antaranya sehingga jumlah nada yang membentuk intervalnya ada tiga
yaitu C-D-E. Demikian pula interval di antara C dan G ialah Lima
berdasarkan penghitungan jumlah nadanya yaitu C-D-E-F-G.9
Melodi yang kita dengar sehari-hari tersusun dari skala tujuh nada
atau disebut juga skala diatonis (dari bahasa Latin, dia = tujuh; tonus =
nada). Berbeda dari pengertian jarak sebagai interval di antara dua nada,
di antara nada-nada skala yang berurutan terdapat dua macam jarak
yaitu jarak penuh (tone / whole) dan jarak setengah (semi tone/ half
step). Kedua jenis jarak nada-nada skala tersebut telah memberikan
kontribusi yang besar terhadap pengembangan berbagai susunan skala
dari ketujuh susunan nada tersebut oleh para komponis dan ahli teori
musik, selama berabad-abad. Secara umum ada dua skala yang
digunakan dalam musik klasik yang menggunakan sistem tonal, yaitu
skala mayor dan minor. Skala mayor ialah yang memiliki jarak setengah
di antara nada ketiga dan keempat, dan di antara nada ketujuh dan
kedelapan (oktafnya). Contoh di bawah ini adalah skala C mayor.
Yang kedua ialah skala minor yang memilki tiga macam pola yaitu
minor asli, minor harmonis dan minor melodis. Skala minor asli (natural)
dengan jarak setengah di antara nada kedua dan ketiga, dan di antara
nada kelima dan keenam. Jika diperhatikan maka karakteristik pola ini
sama dengan skala mayor yang dimulai dari nada keenam. Dengan
demikian sebutan minor asli pada pola ini menunjukkan bahwa ia berasal
dari skala mayor dengan tanpa perubahan sedikit pun kecuali mulai dari
nada keenam skala mayor.
Sementara skala minor natural berasal dari skala mayor, dua pola
skala minor yang lain berasal dari skala minor asli. Skala minor harmonis
menaikkan nada ketujuh setengah laras dengan menggunakan
aksidental, yaitu tanda untuk menaikkan dan menurunkan nada asli.
Pada skala minor harmonis ini nada G dinaikkan dengan tanda aksidental
kres ( ) sehingga menjadi Gis yang lebih tinggi setengah laras.
Penaikkan ini tampaknya bermaksud untuk mempertegas nada A di
atasnya sebagai representasi tonika yang merupakan identitas skala
tersebut yaitu skala A minor.
Sebagaimana halnya nada B dalam skala C mayor yang
merupakan pengantar ke C, posisi Gis dalam skala A minor adalah juga
sebagai pengantar ke A. Resiko dari penaikan ini ialah jarak yang
melebar di antara nada keenam dan ketujuh sehingga terasa kurang
melodis. Ketegasan tonika yang disebabkan penaikan tersebut
menyebabkan pola skala minor ini lebih harmonis di bandingkan dengan
minor asli. Ketegasan dan konsistensi skala ini menyerupai skala mayor
sehingga cocok digunakan untuk menyusun harmoni.10
Skala minor melodis memiliki karakteristik yang sesuai dengan
namanya. Skala ini memiliki kecenderungan tonalitas yang lebih mirip
dengan skala mayor yaitu di samping memiliki ketegasan tonika, juga
lebih mengalir dibandingkan dengan minor harmonis sebagai akibat dari
penerapan dua macam jarak nada saja yaitu tone dan semi tone.
Keunikan skala minor melodis dibandingkan dengan ketiga skala lainnya
ialah terdapatnya pola yang berbeda pada saat mulai atau naik dan saat
kembali atau turun. Pada saat naik bukan hanya nada ketujuh yang
dinaikkan namun juga nada keenam yaitu dari F menjadi Fis. Pada saat
turun, kedua nada yang sebelumnya telah dinaikkan dengan tanda
aksidental kres, kini dikembalikan ke nada aslinya dengan aksidental
natural ( ).
Dengan demikian pada saat turun polanya sama dengan skala
mayor turun mulai nada keenam. Jika kedua nada tersebut tidak
dikembalikan pada saat turun maka akan sama dengan pola skala A
mayor turun dari tonikanya. Dengan kata lain skala tersebut telah
bermodulasi secara pararel kepada kunci mayor. Pada skala minor
natural turun statusnya tidak berubah menjadi C mayor karena mulai dari
A sebagai tonikanya.
Di samping mayor dan minor tentu saja ada pola-pola skala yang
lain yang jarang digunakan dalam musik klasik yang berbasis sistem
tonal. Skala-skala tersebut di antaranya ialah modus-modus gereja Abad
Pertengahan, skala whole-tone11 yang dipopulerkan Debussy, skala
pentatonik (lima nada) yang digunakan untuk menciptakan efek-efek
oriental. Di samping itu ada juga skala lain yang didasarkan atas skala
diatonis yaitu skala kromatis; dari kata latin chrome yang berarti warna.
Tampaknya maksud pewarnaan dalam konteks ini ialah penambahan
nada-nada sisipan dari nada-nada pokok; misalnya di samping G ada Gis
atau Ges yang lebih rendah setengah laras karena diturunkan oleh tanda
aksidental mol ( ).

Kunci
Tanda kunci (Inggris: key signature) berbeda dengan kunci (clef),
digunakan untuk menunjukkan skala nada yang berbeda-beda. Tanda
kunci selalu ditempatkan di setiap awal garis paranada (bukan hanya di
awal lagu) dalam bentuk susunan aksidental kres dan mol. Khusus untuk
skala C mayor tidak diperlukan tanda kunci sedangkan untuk yang
lainnya menggunakan 1 hingga 7 tanda aksidental baik kres maupun mol.
Penggunaan aksidental sebagai tanda kunci tidak bisa dicampur antara
kres dan mol. Misalnya, untuk skala A mayor hanya menggunakan
susunan 3 kres sedangkan skala Bes mayor hanya menggunakan
susunan 3 mol. Dengan demikian tidak ada tanda mula yang
menggunakan kombinasi kres dan mol.
Satu tanda kunci mengakomodasi pasangan dua pola skala
(mayor dan minor) karena skala minor berasal dari skala mayor. Dengan
demikian skala C mayor dan A minor sama-sama menggunakan tanda
mula nol kres maupun nol mol atau tidak menggunakan simbol tanda
kunci. Sehubungan dengan itu kedua skala tersebut bersaudara arau
dalam istilah teori musik disebut memiliki hubungan “relatif” dan oleh
karenanya tinggal di dalam satu tanda kunci sebagai “rumah” mereka.
Dengan demikian skala dengan tanda mula
satu kres dimulai dari nada G dan yang menggunakan tanda mula satu
mol mulai dari nada F. Untuk selanjutnya pola jarak untuk skala mayor
diterapkan pada masing-masing skala yang baru. Itulah sebabnya nada F
pada skala G mayor harus dinaikkan setengah laras menjadi Fis dan
nada B pada skala F mayor diturunkan setengah laras menjadi Bes,
sebagai konsekuensi diterapkannya pola mayor. Kedua nada tersebut
(Fis dan Bes) tidak perlu ditulis di belakang tanda aksidental karena pada
permulaan garis paranada.
Petunjuk nada-nada yang harus dinaikkan atau diturunkan
diekspresikan oleh jumlah kres dan mol pada tanda mula. Masing-masing
tanda aksidental pada tanda mula hanya ditulis dalam satu garis atau
spasi saja guna mewakili nada yang harus dinaik-turunkan. Misalnya
pada kunci atau skala G mayor tanda mula satu kres hanya ditulis di
depan nada F pada garis teratas paranada saja. Walaupun demikian
bukan hanya F tersebut yang dinaikkan menjadi Fis namun seluruh F
pada oktaf-oktaf di bawah dan diatasnya juga otomatis menjadi Fis.
Sehubungan dengan itu cara penulisan tanda-tanda aksidental pada
garis paranada tidak dapat dibuat semaunya melainkan ada urutan yang
baku sebagaimana tampak pada ilustrasi berikut ini.
Tabel 6: Susunan Aksidental Kres pada Tanda Kunci
Pada tabel 2 di atas tampak bahwa walaupun urut-urutan
aksidentalnya sama pada setiap kunci/ clef, posisi peletakannnya
berbeda dari satu kunci ke kunci yang lain. Susunan nada dasar baru
yang menggunakan tanda kunci beraksidental kres dengan sendirinya
sama dengan susunan skala, yaitu senantiasa mulai dari nada yang
kelima. Urut-urutan nada dasar atau skala semacam itu biasa juga
disebut dengfan istilah “lingkaran kwint” atau “fifth circle”. Sementara itu
urut-urutan nada dasar dan tanda kunci yang menggunakan aksidental
mol disebut “lingkaran kwart” atau “fourth circle”.

Tempo
Jika melodi dapat dianalogikan sebagai jiwa bagi musik maka
jantungnya ialah ritme dan tempo. Tempo merupakan “polisi lalulintas”
yang mengatur kelancaran lalulintas sedangkan kelancaran lalulintasnya
ialah ritme. Petunjuk tempo pada naskah musikal tertulis di kiri atas
halaman permulaan sebuah karya musik. Petunjuk tersebut
memberitahukan kepada pemusik seberapa cepat karya tersebut harus
dimainkan; apakah Andante (biasa secepat orang berjalan), Allegro
(cepat), Largo (lebar/ lambat), Presto (sangat cepat), dan sebagainya
(Ewen 1963, 4).
Dalam prakteknya, kecepatan tempo adalah relatif. Pada masa
lalu istilah cepat dan lambat hanya untuk membedakan kecepatan di
antara satu lagu dengan lagu yang lain sedangkan rincian seberapa
cepat harusnya sebuah lagu dimainkan, belum ada. Menjelang akhir
abad ke-18 ditemukan metronom, yaitu instrumen untuk mengukur
berbagai kategori kecepatan tempo musik. Walaupun kini yang dianggap
sebagai penemu instrumen tersebut ialah seorang ahli dari Jerman
bernama Johann Nepomuk Maelzel (1772–1838) namun sebenarnya
idenya telah terlebih dahulu ditemukan oleh Dietrich Nikolaus Winkel (c.
1776–1826) dari Belanda.
Metronom terdiri dari sebuah bandulan yang posisinya dapat
diubah-ubah dengan menggeser kepala bandulan tersebut pada sebuah
tongkat pengayun guna mengatur kecepatan gerak bandulan sesuai
dengan skala angka yang dibutuhkan. Bandulan dan tongkatnya
digerakkan oleh per dalam suatu rangkaian mesin yang setiap kali
gerakan bandulan mencapai masing-masing sisi akan terdengar bunyi
ketokan yang menandai pulsa atau ketukan. Pada metronom terdapat
fasilitas yang dapat mengatur jenis irama tertentu dengan bunyi ”ting”
yang lebih menonjol dan nyaring dari bunyi ketokan yang monoton.
Misalnya pada irama 3/4 akan terdengar pola bunyi ”ting, tok, tok, tok”,
yang berulang-ulang.
Sehubungan dengan itu di samping tanda tempo berupa istilahistilah
biasanya pada permulaan naskah musikal juga tertulis tanda
metronom yang ditulis, misalnya “M.M. (Maelzel's metronome) = 60”,
yang menunjukan bahwa kecepatan lagu yang dituntut ialah setiap satu
ketukan nada setengah setara dengan 60 ketokan per menit. Kemasan
metronom konvensional cenderung pada bentuk piramid. Walaupun
metronom konvensional masih tetap diproduksi, saat ini kita juga bisa
memperoleh berbagai macam model metronom elektronik ataupun digital.
Dalam sejarah musik klasik, metronom pernah satu kali dipergunakan
sebagai alat musik, yaitu pada karya komponis Honggaria, Gy?rgy Ligeti,
berjudul Poème symphonique (1962), yang menggunakan 100 metronom
(Encyclopedia Britanica 2005)
Secara umum tempo musik dapat diklasifikasikan menjadi 6
gradasi, mulai dari kategori sangat lambat, lambat, sedang, agak cepat,
cepat, dan sangat cepat. Pada masing-masing kategori tersebut paling
tidak terdapat antara dua hingga empat sub kategori.

SUB KATEGORI KETERANGAN
? Sangat Lambat-Largo-Luas
? Grave-Serius
? Lambat Lento –Adagio-Gemulai,ringan,santai
? Sedang-Andante-Berjalan dalam tempo orang berjalan)
? Andantino Sedikit/ seperti andante (lebih cepat dari andante)
? Moderato -Agak Cepat
? Allegretto-Agak hidup (tidak secepat allegro)
? Cepat Allegro Gembira, ceria, hidup.
? Sangat Cepat Allegro molto Sangat hidup
? Vivace-Enerjik, bersemangat, hidup.
? Presto-Sangat cepat
? Prestissimo-Secepat mungkin

Terminologi di atas dapat dimodifikasi dengan menambahkan
kata-kata molto (sangat) meno (kurang) poco (sedikit) dan non troppo
(tidak terlalu banyak). Poco allegro dapat berarti agak Allegro. Allegro
non troppo berarti tidak terlalu allegro. Di samping tanda tempo yang
tetap di atas ada juga istilah yang mengindikasikan perubahan tempo.
Yang paling sering digunakan di antaranya ialah accelerando (berangsurangsur
menjadi cepat) dan ritardando (berangsur melambat); tanda a
tempo (kembali ke tempo asal) biasanya terdapat pada bagian yang telah
dilalui tanda perubahan tempo namun bukan di bagian akhir lagu.

Dinamika
Volume yang menunjukkan tingkat kekuatan atau kelemahan
bunyi pada saat musik dimainkan, disebut dinamik. Sebagaimana halnya
tempo yang bermacam-macam dari yang tetap dan berubah, maka
demikian juga dengan dinamik, ada yang tetap dan ada juga yang
berubah. Baik dinamik maupun tempo, keduanya berakar dari sifat-sifat
emosi. Untuk mengungkapkan misteri dan ketakutan dibutuhkan bisikan,
sedangkan kemenangan dan aktivitas yang berani resonansi yang penuh.
Lagu untuk menidurkan anak atau Nina Bobo, maupun lagu-lagu cinta
lebih banyak diekspresikan dengan jenjang dinamik daripada mars
kemenangan. Instrumen-instrumen musik modern menyediakan
jangkauan efek-efek dinamika yang luas yang diharapkan oleh koposer.
Dinamik-dinamik yang pokok berkisar dari yang paling lemah
hingga yang paling kyat, yaitu:

TINGKAT VOLUME ISTILAH DINAMIK SIMBOL
• Sangat Lemah Pianissimo pp
• Lemah Piano p
• Agak lemah Mezzo Piano mp
• Agak kuat Mezzo Forte mf
• Kuat Forte f
• Sangat Kuat Fort?simo ff
Dalam keadaan tertentu terdapat tanda-tanda perubahan dinamik. Yang
paling umum di antaranya ialah sebagai berikut:

TINGKAT VOLUME ISTILAH DINAMIK SIMBOL
Berangsur menguat Crescendo
Berangsur melemah Descrescendo atau Diminuendo
Tekanan mendadak/
Aksen pada satu nada
atau satu akor
Sforzando sf / forced

Sebagai konsekwensi meningkatnya usuran dan tingkat
kepersisan dalam orkestra, komposer memperluas jangkauan dinamik ke
dua arah. Sehubungan dengan itu di samping tanda dinamik yang tertulis
di atas terdapat juga dinamik ppp (pianissimo posible) atau selemahlemahnya
dan fff (fort?ssimo possible) atau sekuat-kuatnya. Jika perlu
kondaktor atau komponis dapat menambahkan menjadi tiga bahkan
empat f atau p.
Terdapat berbagai macam tanda yang berkaitan dengan dinamik
dan tempo yang mengekspresikan emosi dalam karya musik. Tandatanda
tersebut disebut “tanda ekspresi” yang jumlahnya semakin
meningkat pada abad ke-18 dan selama abad ke-19, sebagai
konsekuensi meningkatnya keinginan komposer untuk menunjukkan niat/
keinginannya. Sebagai contoh dapat kita bandingkan di antara naskahnaskah
musical Bach dan Tchaikovsky.
Sejumlah peristilahan mengacu pada tempo dan dinamik.
Memang, khususnya yang digunakan pada abad ke-19 adalah
untuk memantapkan perasaan (mood) dan karakter suatu karya.
Andante maestoso (lambat biasa dan mulia) mengindikasikan
suatu langkah yang stabil dan penuh dengan sonoritas. Morendo
atau menghilang, menunjukkan bahwa tempo harus melambat dan
pada saat yang sama harus melembut atau melemah. Scherzando
atau bercanda, mempersyaratkan bunyi yang ringan dan gerakan
yang lincah. Con brio (dengan berani) mensugestikan suatu
langkah yang enerjetik, dan sonoritas yang hidup.

Dinamik dan Ekspresi
Elemen-elemen dinamik dan ekspresi musikal juga banyak
terdapat dalam bentuk tanda-tanda ekspresi. Crescendo dan
diminuendo adalah di antara efek-efek ekspresif yang penting bagi
komposer. Melalui volume suara yang tenggelam dan menghilang
secara bertahap, ilusi yang jauh memasuki musik, seperti sumber
bunyi yang mendekati kita dan kemudian keluar.
Dengan berkembangnya gaya orchestral, composer dengan
cepat belajar untuk mengambil keuntungan dari prosedur tersebut.
Misalnya Rossini sangat ketagihan untuk memanfaatkan suatu
pengembangan bunyi long-drawn-out guna menampilkan efek
dramatik yang ia karikaturkan dalam karyanya “Monsier
Crescendo” di Paris. Impak dari Crescendo dapat sedikit
memberikan efek sengatan, seperti terdapat dalam bagian penutup
overturnya, The Barber of Seville.
Dalam kasus tersebut, crescendo menjadi kekuatan yang
mempertajam musik, yaitu elemen yang menentukan konsepsi
secara menyeluruh. Hal tersebut dapat kita jumpai dalam Prelude
to Lohengrin karya Wagner yang bermaksud untuk mengambarkan
turunnya Holy Grail dari langit. Gambaran sekelompok malaikat
yang mendekat dari suatu jarak kemudian menghilang,
diterjemahkan ke dalam pengertian apa yang telah menjadi pola
dasar dalam musik, yaitu crescendo dan descrescendo. Contoh
yang lebih jelas dari skema dinamik semacam ini juga terdapat dari
karya Debussy, Nocturne untuk orkestra yang diberi tjudul Fêtes
(Festival).
Crescendo yang dikaitkan dengan accelerando, yaitu
menjadi lebih kuat sekaligus juga menjadi cepat, menciptakan
suatu kenyamanan semapan decrescendo yang dibarengkan
dengan ritardando, yaitu berangsur melemah dan melambat.
Efek intensifikasi volume dan kecepatan diterapkan dalam Pacific
231 karya Honeger. Dalam karya ini composer mencoba
mensugestikan suatu rasa kekuatan yang dikaitkan dengan sebuah
lokomotif dengan cara membangun momentum dan kecepatan
menembus malam. Dalam karya ini crescendo dan accelerando
diterjemahkan ke dalam gerakan imajiner. Hal tersebut juga
dilakukan oleh Tchaikovsky dalam bagian finale Waltz of
theFlowers yang dirancang untuk mempersiapkan penarikan
gorden untuk penampilan balet Nutcracker. Untuk keperluan
tersebut ia memanjat secara ajeg dari register tengah kepada
register tinggi yang cemerlang dan gugup, sehingga ketiga elemen
-yaitu percepatan tempo, peningkatan volume, dan peningkatan
tingkat ketinggian- saling mendesak untuk menciptakan klimaks.

Timbre/ Warna Suara
Schoenberg mengatakan bahwa kejelasan (lucidity) adalah
tujuan dari warna musik. Sebuah nada yang diproduksi oleh
trompet akan memiliki suatu kualitas tertentu. Nada yang sama
pada biola akan terdengar sangat berbeda. Perbedaan-perbedaan
tersebut menunjukkan adanya karakteristik warna atau tinbre pada
setiap instrument. Timbre memfokuskan impresi musikal kita
karena ia menyampaikan karakter khusus dan mutlaknya kepada
gambaran tonal. Pada saat komposer memilih warna ia
menciptakan dunia bunyi tertentu yang menghidupkan musik.
Untuk mengelola warna suara composer menggunakan dua
media yaitu suara manusia dan instrument-instrumen musik. Ia
dapat saja menulis kombinasi di antara keduanya untuk mencapai
tujuannya. Secara konstan ia mengingat sifat alami medium yang ia
pilih. Ia mempertimbangkan kapabilitas dan limitasi setiap
instrument; ia mencoba membuatnya melakukan hal-hal tersebut
untuk mentransmutasikannya ke dalam sumber-sumber keindahan
yang segar.
Yang menjadi pertimbangan para composer di antarannya
ialah keterbatasan jangkauan setiap instrument, jarak di antara
yang trrendah dan tertinggi, yang tidak boleh dilanggar, tingkat
kelembutan di antara yang terlembut dan yang terkuat yang
mampu dimaikan. Belum lagi kebiasaan-kebiasaan teknis setiap
instrument yang berbeda dalam memainkan nada-nada, apakah
dalam register rendah, tengah dan atas, menentukan formasi nada
tertentu yang mudah bagi suatu instrument, belum tentu mudah
untuk instrument yang lain. Misalnya Tuba, dapat menahan nada
panjang tetapi sulit untuk memainkan bagian-bagian yang cepat.
Instrumen seperti piano, mudah untuk memainkan bagian-bagian
cepat tapi tidak memiliki kemampuan untuk menahan nada
panjang. Pertimbangan-pertimbangan semacam ini menentukan
pilihan composer, seakan-akan ia membungkus ide-idenya dengan
pakaian dalam pelukan instrumentalnya.
Beberapa composer memiliki suatu rasa warna yang lebih
cemerlang dari yang lainnya. Para ahli orkestrasi memproses
warna suara dalam tingkatan yang tinggi. Yang jelas warna dalam
musik adalah bagian dan paket dari ide yang ttdak terpisahkan
darinya, sebagaimana halnya harmoni dan ritme. Timbre lebih
daripada sekedar elemen asesori yang kaya yang ditambahkan ke
dalam suatu karya. Timbre adalah salah satu yang memperhalus
kekuatan-kekuatan dalam musik.

Ritme
Sebagaimana telah dijelaskan pada awal pembahasan tentang
tempo di atas bahwa ritme dapat diibaratkan sebagai denyut jantung bagi
musik. Dengan demikian peranan ritme sangat penting, sehingga jika
musik tidak memiliki ritme yang jelas maka musik tersebut akan
melayang atau kabur. Ritme atau irama, adalah susunan di antara durasi
nada-nada yang pendek dan panjang, nada-nada yang bertekanan dan
yang tak bertekanan, menurut pola tertentu yang berulang-ulang. Dapat
juga dikatakan bahwa ritme ialah melodi yang monoton. Dalam berbagai
situasi ritme ialah bagaikan denyut jantung bagi suatu karya musik
sehingga tanpanya sebuah karya musik tidak bisa hidup atau bernafas.
Tanda ritme terdapat dalam garis paranada pada permulaan lagu
tepat setelah kunci (clef) dan tanda kunci. Tanda ritme tersusun dari dua
pembagian angka. Angka yang terdapat di atas menunjukan pola tekanan
yang berulang-ulang dengan dibatasi oleh garis pembatas vertikal atau
biasa disebut garis birama, sedangkan angka yang terletak di bawahnya
menunjukkan jenis nada yang dijadikan satuan. Guna memahami ritme
secara mendalam, kita perlu mengenal jenis-jenis nada berikut jenis-jenis
tanda istirahat secara paralel. Jika butir nada merupakan tanda agar
nada dibunyikan maka tanda istirahat menunjukkan bahwa pemain tidak
boleh membunyikan apapun selama waktu tertentu. Sementara tanda
istirahat memiliki bentuk yang bervariasi, bentuk nada mengacu pada
dikembangkan dari butir nada yang kosong, solid, diberi bendera.
Secara internasional penamaan bentuk-bentuk nada dan tanda
istirahat ada dua macam sebagaimana tampak pada tabel di atas. Di
Indonesia, model penamaan kuantitas atau dengan angka adalah yang
paling sering digunakan daripada istilah-istilah kualitas. Di samping
bentuk-bentuk nada dan tanda-tanda istirahat di atas masih ada lagi yang
sangat jarang digunakan yaitu ”breve” yang durasinya adalah dua kali
lipat nada penuh.
Susunan tanda-tanda tersebut memiliki perbandingan matematis
yang sangat mendasar dan mudah dipahami. Guna memahami maksud
perbandingan tersebut dapat kita analogikan dengan martabak atau
pizza. Pizza yang utuh memiliki nilai yang sebanding dengan nada penuh
sehingga jika pizza tersebut dipotong sama rata maka setiap bagiannya
bernilai seperti nada setengah. Jika pizza tersebut dipotong menjadi
empat bagian yang sama besarnya maka setiap bagian pizza sebanding
dengan nilai nada seperempat. Maksudnya adalah satu nada penuh
memiliki nilai yang sama dengan empat buah nada seperempat.
Nilai pada nada-nada biasanya dipahami langsung dengan
melihat langsung perbandingan jumlah nadanya. Sebuah nada penuh
sebanding dengan dua buah nada setengah, sebanding dengan empat
nada seperempat, dan seterusnya.
Banyak orang memahami secara salah bahwa setiap crotchet
atau nada seperempat, bernilai satu ketukan. Pemahaman yang benar
ialah bahwa crotchet akan bernilai dua ketukan jika nada yang durasinya
lebih pendek, yaitu quaver atau nada seperdelapan, dianggap satu
ketukan. Dalam lagu berirama 4/4, crotchet bernilai satu ketukan karena
pada tanda irama tersebut angka yang terdapat di atas menunjukan
jumlah pola tekanan untuk setiap birama sedangkan angka yang berada
di bawah menunjukkan nada mana yang harus bernilai satu ketukan.
Atau dengan kata lain menunjukkan jenis nada yang mana yang dijadikan
satuan ketukan; dalam hal ini tentu saja nada seperempat karena angka
yang terletak di bawah ialah empat. Dalam irama 4/2 maka yang menjadi
satuannya ialah nada 1/2. Konsekuensinya, nada 1/4 kini berubah
nilainya menjadi setengah ketukan.
Irama-irama yang ada di dunia ini pada dasarnya dapat
dikategorikan kepada tiga macam yaitu irama menari dengan pola
hitungan ”tiga” atau disebut triple, irama berbaris dengan pola hitungan
”dua” atau duple dan irama umum atau yang paling lazim dengan pola
hitungan ”empat” atau quadruple. Walaupun demikian dalam
perkembangannya ada juga irama yang merupkan kombinasi di antara
irama-irama tersebut. Misalnya irama 5/4 adalah kombinasi di antra triple
dan duple. Irama 7/4 ialah kombinasi di antara irama triple dan quadruple.
Irama-irama dasar, duple, triple dan quadruple ialah irama reguler
sedangkan kombinasi di antara irama-irama tersebut adalah irama non
reguler.
Irama-irama dasar disebut juga irama bersahaja atau simple time.
Di samping simple time ada irama lain, yaitu irama ganda atau compound
time yang mengacu pada pola tekanan irama bersahaja. Ciri irama ganda
ialah adanya pengelompolan satuan tiga ketukan yang dilipat gandakan
sesuai dengan pola-pola simple time. Contohnya ialah 6/8 yang mengacu
kepada pola irama duple sehingga memiliki dua tekanan pokok yaitu
pada hitungan pertama dan keempat dari enam ketukan irama ini.

KATEGORI JENIS CONTOH
Duple 2/16 2/8 2/4 2/2
Triple 3/16 3/8 3/4 3/2
Simple
Quadruple 4/16 4/8 4/4 4/2
Duple 6/16 6/8 6/4 6/2
105
Compound Triple 9/32 9/16 9/8 9/4
Quadruple 12/32 12/16 12/8 12/4

Harmoni
Harmoni dan kontrapung dapat diibaratkan sebagai otak atau
pemikiran dari suatu karya musik. Harmoni adalah ilmu
mengkombinasikan nada-nada ke dalam akor-akor (chords). Sebagai
salah satu cabang ilmu musik, harmoni hanya dapat dipelajari secara
khusus dan secra terpisah. Dalam bab ini pembahasan hanya meliputi
perkenalan terhadap pemahaman awal yang sangat mendasar dalam
mempelajari ilmu tersebut.
Landasan harmoni ialah susunanvertikal yang biasanya terdiri
dari tiga atau empat nada. Sebuah akor yang terdiri dari tiga nada, yang
setiap nadanya terpisah satu sama lain oleh interval tiga (third), disebut
trinada (triad). Jika dibangun di atas nada pertama maka ia disebut
trinada Tonika. Pada skala C mayor akor tonikanya tersusun dari tiga
nada yang tepisah oleh interval tiga, yaitu C-E-G
Ilustrasi 28: Susunan trinada di atas skala C mayor
Pada ilustrasi di atas, simbol-simbol angka Romawi besar
menunjukkan jenis akor mayor sedangkan angka Romawi kecil
menunjukkan jenis akor minor. Jenis mayor dan minor ditentukan oleh
kualitas interval tiga (third) di antara nada pertama dan kedua. Pada akor
tonika kualitas tersebut berada di antara C dan E yang memiliki susunan
2 jarak penuh (tone) yaitu 1 tone dari C ke D dan 1 tone dari D ke E.
jarakAkor yang tersusun dari empat nada disebut akor tujuh. Sedangkan
pada akor minor, seperti pada akor kedua, kualitas interval tiga tersebut
lebih kecil karena memiliki susunan 1 tone dan 1 semi tone yaitu 1 tone
dari D ke E dan 1 tone dari E ke F.
Kecuali trinada ketujuh, interval pasangan kedua interval tiga
pada setiap trinada memiliki kualitas berbeda, jika yang pertama interval
3 mayor maka interval tiga yang kedua ialah minor. Khusus untuk trinada
ketujuh pasangan kedua interval tersebut sama yaitu minor. Sehubungan
dengan itu trinada tersebut memiliki kualitas yang lebih kecil dari trinada
minor atau kualitasnya menyempit sehingga biasa disebut diminished
(dari bahasa Inggris) yang arti harfiahnya memang menyempit.
Sebaliknya, jika pasangan kedua interval tiga pada suatu trinada ialah
mayor maka kualitas trinada menjadi lebih besar dari trinada mayor dan
biasa disebut meluas atau augmented.
Trinada augmented di atas akan kita jumpai jika kita menyusun
trinada di atas skala minor. Dengan demikiam trinada tidak hanya dapat
dibangun di atas nada-nada skala mayor namun dapat juga di atas nadanada
skala minor. Di antara tiga macam skala minor yang ada yaitu
natural, melodis dan harmonis, yang terakhirlah yang biasa digunakan.
Jika kita bandingkan antara trinada yang berbasis skala mayor
dan minor maka beberapa hal yang akan kita temukan ialah bahwa
Tonika dan sub dominannya berbeda. Pada trinada mayor keduanya
berkualitas mayor sedangkan pada trinada minor keduanya adalah minor.
Persamaannya ialah keduanya memiliki dominan dengan kualitas mayor.
Suatu hal yang unik pada rangkaian trisuara minor ialah terdapatnya dua
trinada diminished dan sebuah trinada augmented sebagai konsekuensi
penggunaan skala minor harmonis.
Jika trinada tonika berfungsi sebagai penentu identitas dan
kekuatan tonalitas suatu skala maka trinada dominan berfungsi sebagai
penguat keberadaan tonika. Agar trisuara dominan dapat menjalankan
fungsinya dan tidak mengganggu keberadaan tonika maka terjadilah
fenomena akor yang mengandung tidak tiga nada tetapi empat nada yaitu
akor dominan seventh atau secara awam biasa disebut akor tujuh. Akor
dominan seventh terjadi dengan menambahkan satu interval tiga minor di
atas trinada dominan. Penambahan tersebut menyebabkan adanya
penggabungan dua trinada yaitu trinada dominan dan trinada pengantar
(trinada ketujuh) secara shift atau berlapis.
Baik pada skala mayor maupun minor trinada yang dibangun di
atas nada pengantar atau nada ketujuh, menghasilkan trinada diminished
atau menyempit. Jika trinada mayor menimbulkan kesan cerah atau
gembira, minor diasosiasikan dengan sedih atau suram, augmented
memberikan kesan miring seperti akan jatuh, maka trisuara diminished
memberikan kesan sempit, gelisah dan menuntut penyelesaian.
Penggabungan antara trisuara mayor dan minor secara berlapis
mengakibatkan kesan yang cerah dan besar tetapi menuntut
penyelesaian dan penyelesaian tersebut jelas yaitu tonika. Jadi berbeda
dengan diminished yang walaupun juga menuntut penyelesaian namun
terdengar sempit. Dari kedua rangkaian tersebut persamaan umum yang
dapat dipahami ialah bahwa dalam sistem tonal terdapat tiga trinada
utama yaitu trinada I (tonika), V (dominan) dan IV (sub dominan).
Fenomena ini dapat kita lihat pada musik-musik non klasik hingga saat ini
atau dengan kata lain secara tanpa disadari sitem tonal mengikat musikmusik
populer dan beberapa musik tradisi.
Kita bisa membuat variasi dari akor-akor tersbut dengan suatu
proses yang diebut ”pembalikan” (inversion). Dengan memindahkan nada
terrendah (C) satu oktaf ke atas sehingga dari susunan C-E-G menjadi EG-
C, terjadi interval tiga di antara nada yang pertama dan kedua dan
interval enam di antara nada pertama dan keenam. Sehubungan dengan
itu pembalikan yang pertama ini disebut juga akor 6/3. Smentara itu akor
6/4 adalah akor pembalikan kedua yang diperoleh dengan menaikan
nada pertama dari akor pembalikan pertama sebanyak satu oktaf ke atas.
Dalam suatu komposisi musik, peranan trinada sangatlah penting.
Selain sebagai dasar harmoni yang digunakan untuk menyusun iringan
sajian sebuah lagu, trinada juga sebagai dasar penenyusunan komposisi
maupun aransemen secara umum. Kepentingan trinada dalam iringan
sebuah lagu disebabkan karena umumnya struktur melodi diatonis
senantiasa berada dalam kerangka tonalitas dan skala nada.
Sehubungan dengan itu guna memperoleh pemahaman lebih jauh
mengenai struktur.

Kontrapung
Di samping harmoni ada teknik komposisi yang tidak kalah
pentingnya yaitu kontrapung atau dalam bahasa Inggris disebut
counterpoint. Jika harmoni menekankan melodi pokok dan iringannya
sedangkan maka pada kontrapung, beberapa melodi dimainkan secara
bersamaan. Dengan demikian jika beberapa melodi dinyanyikan
bersamaan dengan efek-efek harmonis yang dapat diterima maka kita
memperoleh kesan kontrapung.
Kontrapung dapat didefinisikan sebagai seni mengkombinasikan
melodi. Dalam konteks yang lebih luas kita dapat membedakan antara
gaya homofoni denga kontrapungtis. Gaya homofonik pada dasarnya
bersifat akor (chordal) yang umumnya tampak pada berbagai lagu himne
sebagai contoh bentuk yang paling sederhana. Pada model tersebut lagu
diringi oleh akor-akor dasar atau sederhana. Di samping itu juga biasa
terdapat pada grekan-gerakan satabande pada suite abad ke-18. Dalam
penulisan kontrapung juga terdapat basis logika akor, tapi bagian-bagian
suaranya memiliki alur melodi yang berdiri sendiri. Sebagai contoh yang
sederhana ialah kontrapung pada karya-karya Two-part Invention Bach.
Alur melodi suara basnya sama menariknya dengan melodi pada suara
atas. Demikian pula pada karya-karya Gigue dari French Suite No. 5
Bach, yang menerapkan kontrapung tiga suara yang berjalan bersama.
Penulis kontrapung yang terkenal di antaranya ialah Bach dan
Handel. Walaupun Bach kadang-kadang mencoba menggunakan konsep
homofonis namun kesan kontrapungnya tetap tidak bisa hilang. Gaya
kontrapung juga seringkali menerapkan teknik-teknik imitasi, bahkan ada
yang secara berlebihan mengatakan bahwa imitasi adalah darah
kehidupan kontrapung. Dalam kenyataanya imitasi adalah teknik yang
jauh lebih ringan dari yang diperkirakan banyak orang. Teknik kontrapung
banyak diterapkan dalam karya-karya solo instrumental, khususnya
piano. Walaupun demikian terdapat juga untuk karya-karya solo gitar,
dan bahkan untuk solo instrumen gesek seperti biola dan cello. Contoh
kontrapung tiga suara di bawah ini dikutip dari Prelude, Fugue, and
Allegro BWV 998, untuk keyboard karya J.S. Bach.
Walaupun pada dasarnya kontrapung ialah paling tidak terjadi dari
perpaduan dua melodi, namun efek kontrapung juga bisa diterapkan
pada alur melodi tunggal, yaitu dengan teknik imitasi. Model kontrapunf
seperti ini dapat dijumpai pada karya-karya Bach, baik untuk permainan
biola maupun cello tanpa iringan.

Sumber: Moh. Muttaqim Kustap, Seni Musik Klasik Jilid 1

Kunjungi saya di: www.abrahkreatif.blogspot.com

Tags

0 komentar: